< 1 >
Read!
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 2 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 3 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
< 4 >
Al-Islami
In the Name of ALLAH, Who has created man from a clot (a piece of thick coagulated blood).
"Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu"

Rabu, 15 Januari 2014

Presiden SBY: Tiga Tujuan Umat Islam Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Presiden SBY: Tiga Tujuan Umat Islam Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW
TRIBUNNEWS.COMJAKARTA - Presiden Susilo BambangYudhoyono (SBY) menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW bersama ratusan jemaah Majelis Rasulullah di lapangan Silang Monumen Nasional, Jakarta (14/1/2014). Dalam sambutannya, SBY mengatakan ada tiga tujuan pentingnya umat Islam memperingati Maulid.

"Ada tiga tujuan mengapa umat Islam diharapkan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ," kata SBY.

SBY menuturkan, tujuan pertama dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad umat Islam harus bersyukur kepada Allah karena telah mengutus nabi Muhammad untuk menyebarkan Islam.

"Tujuan kedua umat Islam harus bersyukur kepada Nabi Muhammad karena telah mengajarkan Islam. Beliau telah melakukan perubahan besar yakni transformasi dari zaman kegelapan ke zaman penuh iman," tuturnya.

Lebih jauh SBY mengatakan, dengan diadakannya Maulid Nabi Muhammad SAW, diharapkan yang menyelenggarakan dan menghadiri perayaan tersebut dapat mencontoh dan meneladani sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

"Nabi Muhammad SAW merupakan contoh dan teladan bagi umat Islam," ucapnya.

Selasa, 14 Januari 2014

Sejarah dan keutamaan maulid nabi

Maulid Nabi Muhammad
Bertepatan dengan 14 Januari 2014, seluruh umat muslim merayakan dan berbahagia dengan datangnya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini. Tak terkecuali pemain Muslim Arsenal, Mesut Oezil. Ia pun  menulis pesan pesan bagi umat Islam di seluruh dunia dalam bahasa Arab,  Inggris dan Jerman.
“I wish the Islamic world a blessed and happy celebration,”  tulisnya di laman Facebook seperti dilansir onislam.net, Senin (13/12).
Mengutip tulisan as-salafiyyah.com tentang Maulid Nabi. Fatwa Ulama besar, Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan cara yang tidak berlebihan adalah merupakan perbuatan Bid’ah hasanah, dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab merupakan wujud kegembiraan, dan kecintaan / mahabbah kapada Rosullullah saw.
Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”. Dalam kitab “Anwarul Muhammadiyah“ karangan : Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, diterangkan bahwa pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, seorang wanita budak belian dari Abu Lahab (tokoh kafir jahiliyyah) yang bernama Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw kepada Abu Lahab. Karena senangnya Abu Lahab mendapat berita itu, spontan budak wanitanya yang bernama Tsuwaibah itu dibebaskan dan dihadiahkan kepada Siti Aminah : Ibunda Muhammad Saw untuk menyusui bayinya tersebut.
Ketika Abu Lahab telah meninggal dunia seorang sahabat Nabi ada yang bertemu dalam mimpinya dan menanyakan tentang nasibnya di akhirat. Abu Lahab menjawab : Saya disiksa selama-lamanya karena kekafiran saya tetapi pada tiap-tiap hari senin saya diberi keringanan dari siksaan bahkan aku bisa mencium dua jari tanganku dan bisa keluar airnya untuk saya minum.
Dan ketika ditanya : mengapa bisa demikian? Abu Lahab menjawab : Ini adalah merupakan hadiah dari Allah karena kegembiraanku pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Dalam sebuah hadits dikatakan :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
“Barang siapa yang memulyakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.
Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :
مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.
Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.
Sahabat Ali Bin Abi Tholib berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْياَ اِلاَّ بِاْلإِ يْمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, apabila pergi meninggalkan dunia pergi dengan membawa iman”.
Melihat besarnya pahala tersebut maka banyaklah kaum muslimn muslimat yang selalu melahirkan rasa cintanya kepada Nabi dan mengagungkan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang terpuji seperti pada tiap-tiap malam Senin atau malam Jum’at mengadakan jama’ah membaca kitab Al- Barzanji, sholawat maulud, dan ada pula yang menyediakan tabungan yang berwujud uang hasil tanaman atau sebagian gajinya untuk kepentingan memperingati kelahiran Nabi Saw.
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulud Nabi sudah diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam mulai rusak dalam berbagai hal.
Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.
Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.
Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).
Anjuran memperingati Maulid Nabi
Anjuran supaya memperingati Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri. Firman Allah surat Al A’rof : 157 :
فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof :157)
Termasuk orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah, syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak dan akan beruntung.
Nabi Muhammad saw juga sudah memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al Anshory r.a :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.
Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1. Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.
2. Golongan umat Islam yang merayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.
3. Golongan yang ekstrim, yaitu tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu dianggap bid’ah yang harus ditinggalkan.

Hukum memperingati maulid nabi


Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh, perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi;in tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu di ketahui pula bahwa menurut pakar sejarah, yang pertama kali merayakan acara Maulid Nabi adalah Dinasti Ubaidiyyun atau kita sering mendengarnya dengan Dinasti  Fatimiyyun (silsilah keturunannya di sandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan: “Para Penguasa Dinasti Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Tholib, Mailid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah al Zahra, Maulid Penguasa yang sedang bekuasa saat itu, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Sya’ban, peayaan malam penutup Ramadhan, perayaan Idul Fitri, perayaan Idul Adha, perayaan Idul Ghodir”
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negri Mesir dalam kitab nya Ahsanul Kalam (hal 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu Maulid Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Tholib, Mailid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah al Zahra, Maulid Penguasa yang sedang bekuasa saat itu adalah Al Mu’izh Lidinillah (keturunan Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Begitu pula Asy Syaikh Ali Mahfudz dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama adalah Dinasti Ubaidiyyun (Fatimiyyun). Di nukil dari Al Maulid hal 20.

Siapakah Fatimiyyun Sebenarnya,..??
Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian , banyak ulama menyatakan kesesatan mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka.
Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan Kasyful Asor wa Hatkul Astar (Menyikap rahasia dan mengoyak tirai). Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Radidhoh (Syi’ah), dan menyembunyikan kekufuran seamta.”
Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan; “Tidak di ragukan lagi, jika kita melihat sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja mereka adalah orang-orang yang dzolim, sering menerjang perkara yang Haram,jauh dari melakukan perakara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah, menelisihi Al Kitab dan As Sunah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah, perlu di ketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Abbas lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih ilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun”
Beliau rahimatullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasiq (berbuat maksiat) dan kufur” (Majmu’ Fatawa, 35/127). Bani Fatimiyyun atau Ubaidiyyun menyatakan bahwa mereka juga memiliki nasab sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tiada satu pun ulama yang menyatakan demikian.
Ahmad bin Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah di ketahui bersama dan tidak bisa di ragukan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketaqwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali, Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. ” (QS Al-Isra’: 36), begitu juga Allah ta’ala befirman, “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS Az Zukhruf: 86). Allah ta’ala juga berfirman,”Dan kami hanya menyaksikan apa yang kamu ketahui.” Perlu diketahui bahwa tiada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah ketuunan mereka sampai kepada Fatimah.” Begitu pula Ibnu khalillkan megatakan, “para Ulama peneliti nasab mengingakri klaim mereka dalam nasab (yang katanya sampai pada Fatimah).” (Wafayatul A’yan, 3/117-118).
Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang di lakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan hari raya orang Majusi dan Nasrani yaitu Nauuz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khomisul Adas (perayaan 3 hari sebelum paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari islam. Bahkan perayaan-perayaan yng di adakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti Madzab mereka. Jika kita menengok akidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Bathiniyyah yang sesat. (lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146/158)
Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai bani Ubaidiyyun, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nasrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim Ali sebagai Tuhan (yang di sembah) atau ada sebagian mereka mengklaim Ali memiliki kenabian. Sungguh bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nasrani.”
Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan  panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula bu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Bathiniyah). Inilah sejarah kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Akhirnya kita dapat menarik kesimpulan, bahwa:
1.   Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita temukan pada tiga generasi (para Sahabat, Tabi’in dan Tabi'ut tabi'in) yang merayakannya, bahkan pula para Imam Madzab.
2.   Munculnya maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun, dan Daulah tersebut di hancurkan oleh sultan Shalahuddin Al Ayubi.
3.   Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antaranya mereka mengakui Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan jauh dari ketaatan pda Allah dan Rasul-Nya.
4.   Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun, yang mana sebagai pencetus pertama Maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari islam, senng berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, dan telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kamu maka dia termasuk bagian dari kamu tersebut.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Copyright @ 2013 Al-Islami.